Sabtu, 07 Januari 2012

Kemisteriusan Suku Amazon






Kemisteriusan Suku Amazon
Lebih dari 4.000 tahun, perempuan ternyata sudah ambil peranan penting dalam pertempuran yang menentukan di dunia.
Namun sejumlah besar perempuan dalam satu suku, yang seluruhnya adalah pejuang yang mahir menggunakan senjata dan menguasai teknik pertempuran, mungkin hanya suku Amazon!

Ada kisah dari masa Hercules tentang satria perempuan berkorset kulit sebagai baju zirahnya yang sangat menguasai seni tempur dan pertarungan dengan senjata tajam, lalu seorang ratu yang memimpin sekelompok serdadu perempuan bernama Hippolyte. Kisah ini yang mungkin diadaptasi dalam karakter film seri versi TV: Xena the Princess Warrior!
Versi catatan penting sejarah Yunani kuno menyebutkan keterlibatan suku perempuan Amazon di bawah komando Ratu Penthesileia, dalam perang akbar Troy di abad ke-5 sebelum Masehi.

Suku Amazon ini membantu Trojan melawan invasi tentara Yunani. Hujan panah dari tembok istana Troy kemungkinan besar merupakan buah serangan perempuan-perempuan Amazon ke barisan tentara Yunani yang mendarat dari bibir pantai. Panah-panah yang menewaskan sebagian besar tentara ekspedisi pertama Yunani yang merangsek ke garis pertahanan Troy. Namun akhirnya Ratu Penthesileia sendiri terbunuh di tangan pendekar Yunani yang legendaris: Achilles. Inilah yang mematahkan perlawanan suku Amazon di Troy.

Amazon adalah sebuah sebutan. Ada dua makna Amazon ditinjau dari etimologi-nya. Versi pertama, Amazon berdasarkan tinjauan bahasa Iran kuno kira-kira berbunyi œha-mazan yang diterjemahkan sebagai warriors (pejuang). Sebutan ini ditujukan bagi voluntir suku gagah berani yang mayoritas perempuan dalam pertempuran besar Persia (492- 448 SM).
Sementara versi Yunani, menyebutkan bahwa Amazon mengandung makna buah dada yang hilang (breastless). Penyebutan ini muncul terhadap sekelompok pejuang perempuan yang mahir menggunakan panah. Namun anggota suku ini tidak memiliki buah dada sebelah kanan. Konon buah dada itu sengaja dipotong untuk memudahkan gerakan memanah mereka.
Dalam mitologi Yunani Kuno, suku Amazon dikenal sebagai suku yang seluruh anggotanya adalah perempuan pejuang yang amat terlatih menggunakan panah, tombak dan pedang. Sebuah skriptur (yang ditaksir) berasal dari abad ke-8 atau ke-7 sebelum Masehi menyebutkan mereka sebagai Amazon (Amazonia). Perempuan-perempuan Amazon ini dituliskan berasal dari suku barbar nomaden yang bermukim di sekitar Laut Hitam (wilayah utara Turki sekarang).

Sejarawan Yunani kuno, Herodotus mempercayai keberadaan Sarmatians, yaitu orang-orang yang menempati kawasan Scythian. Dari sinilah dugaan kuat muncul bahwa telah terjadi penyatuan antara perempuan suku dan kaum Scythians. Keturunan perempuan mereka yang lantas meneruskan kebudayaan suku Amazon.
Literatur menyebutkan bahwa suku Amazon memang hanya terdiri dari perempuan. Semuanya didik sejak kecil untuk menjadi petarung yang tangguh. Sejak anak perempuan menginjak akil balik, buah dada kanannya pun dipotong dalam sebuah ritual. Inilah ciri khas Amazon Yunani. Perempuan-perempuan itu mengorganisir diri menjadi sebuah ras yang unggul, menyaingi satria lelaki bahkan melebihinya.

Dalam satu tahun, setidaknya mereka melakukan perburuan lelaki untuk reproduksi dan melanjutkan keturunan. Seandainya lahir anak lelaki, maka mereka akan membuangnya ke suku lelaki yang menjadi ayah biologisnya  atau dipelihara sebagai budak. Amazon memang hanya menerima kaum perempuan saja di komunitasnya.


Amazon Amerika
Sementara ketika suku Amazon (versi Yunani) telah lama dianggap punah, kisah mengejutkan muncul pada abad ke-16. Kisah ini dilaporkan penjelajah Spanyol Francisco de Orellana, komandan satu pasukan ekspedisi Gonzallo Pizarro dalam dokumen resmi ekspedisinya di kawasan Amazon, Amerika Selatan.
Tahun 1541 – 1542, Francisco bersama regu pasukannya melakukan ekspedisi menyusuri kawasan basin (daerah berawa) Sungai Amazon dari pesisir pantai Pasifik kawasan Napo River (hulu) sampai pesisir Atlantik (hilir).

Dalam penjelajahan sungai tersebut, tentara Spanyol tersebut beberapa kali diserang suku-suku pedalaman. Namun yang paling mengejutkan adalah serangan mematikan pejuang suku Indian yang seluruhnya adalah perempuan bersenjata! Pasukan ekspedisi Spanyol kemudian menyebut pejuang Indian perempuan tersebut dengan nama Amazon. Nama itu diambil dari legenda pejuang perempuan Amazon di Yunani.
Dari kejutan berdarah suku Amazon inilah sungai tersebut kemudian mereka beri nama Amazon. Hingga kini daerah sungai terpanjang di Amerika Selatan yang melintasi Peru, Columbia, dan Brasil tersebut disebut Amazon. Termasuk wilayah daratan hutan di sepanjang sungai yang pada masa itu menjadi benteng pejuang-pejuang Indian pedalaman hutan tropis Amerika Selatan.

Walau muncul keraguan apakah suku Amazon benar-benar ada atau hanya sekadar mitos yang tertuang dalam epic dan legenda, paling tidak banyak artefak dari masanya yang merujuk pada eksistensinya.
Di wilayah Eropa modern, sejumlah artefak tersebut tersimpan dalam museum, dari masa kejayaan Yunani Kuno, Romawi, Persia, sampai Indian Amerika dan Timur Tengah. Pahatan, relief, arca, dan senjata tempur peninggalan mereka membuktikan bahwa kemungkinan besar suku perempuan yang dikenal sebagai Amazon memang benar-benar ada. Hal itu juga didukung sejumlah skriptur tua dari masa sebelum masehi sampai abad pertengahan Masehi.
Kegagahan perempuan-perempuan pejuang ini memang tak bisa dihilangkan begitu saja dari jejak sejarah. Jika ia tidak mengacu pada satu suku atau bangsa yang didominasi perempuan, setidaknya kelompok perempuan yang mahir bertempur dan menggunakan senjata memang benar-benar nyata di masa lalu.


Kehidupan Di Hulu Amazon 
Dari kaki pegununan Andes di Peru, terbentang hutan yang luas yang membentang ke arah timur Benua Amerika (bagian selatan) sejauh kira-kira 3.700 kilometer. Bentangan itu bertemu dengan birunya Samudera Atlantik. Dan wilayah Amazon terdapat di bentangan tersebut.
Wilayah Amazon menyelimuti hampir 60 persen wilayah negeri Peru. Amazon dianggap sebagai salah satu gudang harta ekologis yang paling kaya di bumi. Lebih dari 3000 jenis kupu-kupu beterbangan di udara yang lembab dan lebih dari 90 spesies ular mengintai di dahan dan di dasar hutan. Dan kira-kira sekitar 2500 spesies ikan (termasuk belut listrik dan piranha) hilir mudik di sungainya yang terkenal itu.
Untuk tumbuhan, anggrek mendominasi wilayah itu,  4000 jenis anggrek memamerkan bunga-bunganya yang cantik.

Di beberapa lokasi, curah hujan sebanyak dua hingga tiga meter membasahi hutan setiap tahun, sehingga sungai Amazon dan ke 1100 anak sungainya meluap membanjiri lantai hutan. Panas dan kelembaban berpadu menciptakan udara sauna yang digemari tanaman, tumbuh-tumbuhan lebat hidup subur di tanah liat, yang dianggap tanah terburuk di dunia karena tidak cocok untuk penggarapan permanen.


Asal Usul Penduduk
Para arkeolog percaya bahwa lembah sungai Amazon pernah dihuni oleh jutaan penduduk selama berabad-abad. Sekarang, sekitar 300.000-an orang terbagi dalam 40 lebih kelompok etnik, menghuni Amazon wilayah Peru. Diantaranya, konon ada 14 kelompok pribumi yang sekarang nyaris terasing dari dunia luar. Setelah secara singkat terpapar dengan masyarakat ‘beradab’, suku-suku ini menarik diri ke sudut-sudut terdalam hutan itu dengan harapan terhindar dari kontak luar.
Lalu, kapan para penghuni hutan itu datang dan dari mana mereka berasal? Para pakar memperkirakan bahwa berabad-abad sebelum Tarikh Masehi, migrasi yang pertama datang adalah berasal dari utara. Suku Jivaro (terkenal suka menciutkan kepala musuh yang mereka bunuh) datang dari kepulauan Karibia; dan suku Arawak, dari Venezuela. Suku-suku lain diduga datang dari Brasil di Timur dan Paraguay di Selatan.

Setelah menetap, kebanyakan suku tampaknya hidup hanya di dalam area-area tertentu, berburu dan mengumpulkan makanan. Mereka juga menanam tumbuhan yang cocok dengan tanah yang asam, seperti singkong, cabai, pisang dan jagung. Orang Spanyol mengamati bahwa beberapa suku terorganisasi dengan baik, karena bisa merancang lumbung makanan dan menciptakan metode-metode memelihara hewan liar.


Bentrokan Budaya
Selama abad ke 16 dan 17, para penakluk Spanyol menyerbu masuk ke Amazon. Para  misionaris menyusul, berniat menobatkan kaum pribumi agar menganut Katolik Roma. Para misionaris itu membuat peta-peta yang sangat bagus sehingga orang Eropa mulai berminat datang ke Amazon. Tetapi para misionaris itu juga mendatangkan penyakit dan kehancuran.
Kehidupan Mereka Sekarang
Kini, banyak penduduk pribumi masih hidup menurut tradisi. Misal, rumah mereka di desa dibuat mengikuti kebiasaan turun menurun, yaitu diberi rangka dari tiang kayu yang diambil dari hutan dan diberi atap daun palem atau tumbuhan lain. Karena terbentuk rumah panggung, tempat tinggal mereka bebas banjir tahunan dan jarang diganggu binatang berbahaya.

Suku-suku itu berpakaian dan berdandan dengan beragam cara. Para pria dan wanita yang tinggal jauh di pedalaman hutan mengenakan cawat atau rok tenun yang pendek, dan anak-anak dibiarkan telanjang. Orang-orang  yang lebih sering kontak dengan dunia luar sudah mengenakan pakaian ala Barat.
Beberapa penduduk asli menindik hidung atau cuping telinga mereka dan menghiasinya dengan cincin, potongan kayu, tulang atau bulu. Yang lainnya, seperti suku Mayoruna, menindik pipi mereka.
Beberapa orang suku Tucuna dan Jivaro bahkan mengikir gigi mereka. Banyak orang di antara suku-suku itu menato kulit mereka.

Suku-suku Amazon mengenal ribuan jenis tanaman dan menjadikan tanaman tersebut sebagai apotek mereka. Mereka mengambil sari tanaman untuk mengobati gigitan ular, disentri, penyakit kulit, dan penyakit lainnya.
Lama sebelum masyarakat dunia mengenal karet, suku Amazon sudah menyadap getah pohon karet dan menggunakannya untuk melapisi keranjang supaya kedap air dan membuat mainan bola karet.
Hutan juga menyediakan bahan-bahan untuk transportasi dan komunikasi jarak jauh. Misalnya, para pria menebang pohon dan membuat kano untuk menyusuri sungai, mereka juga melubangi kayu gelondongan guna membuat genderang untuk menyampaikan pesan yang bisa didengar hingga ke tempat yang jauh!
Pengaruh Dukun dan Spiritisme
Bagi penduduk Amazon, hutan dihuni banyak jiwa yang bergentayangan di malam hari, roh-roh yang menyebabkan penyakit dan dewa-dewa di sungai-sungai yang menginginkan korban yang tidak waspada. Misal suku Aquaruna, salah satu suku terbesar di Peru, memuja lima dewa: 
(1) Bapak Pejuang,
(2) Bapak Air 
(3) Ibu Tanah 
(4) Bapak Matahari 
(5) Bapak Dukun.

Banyak yang percaya bahwa manusia diubah menjadi tanaman dan binatang. Karena takut menyinggung perasaan makhluk gaib, penduduk asli tidak mau membunuh binatang lainnya jika memungkinkan.
Yang memimpin masyarakat dan kehidupan religius tradisional adalah para dukun, yang menggunakan tanaman halusinogen untuk mencapai keadaan trans. Sebagian penduduk desa datang pada dukun-dukun itu untuk memperoleh kesembuhan, ramalan tentang hasil perburuan dan panen serta ramalan tentang peristiwa di masa depan.







FITRIA PRATIWI
12110849
2 KA 21