Kamis, 11 November 2010

Mapping The Subject - Mengapa Orang Tidak Peduli Dengan Orang Lain Disekitarnya????


MAPPING THE SUBJECT
Mengapa terkadang orang – orang tidak perduli dengan orang lain disekitarnya?
Petama – tama dapat dijelaskan arti dari peduli.
Peduli adalah sebuah nilai dasar dan sikap memperhatikan dan bertindak proaktif terhadap kondisi atau keadaan di sekitar kita. Peduli adalah sebuah sikap keberpihakan kita untuk melibatkan diri dalam persoalan, keadaan atau kondisi yang terjadi di sekitar kita.
Orang-orang peduli adalah mereka yang terpanggil melakukan sesuatu dalam rangka memberi inspirasi, perubahan, kebaikan kepada lingkungan di sekitarnya. Ketika ia melihat suatu keadaan tertentu, ketika ia menyaksikan kondisi masyarakat maka dirinya akan tergerak melakukan sesuatu. Apa yang dilakukan ini diharapkan dapat memperbaiki atau membantu kondisi di sekitarnya.
Sikap peduli adalah sikap keterpanggilan untuk membantu mereka yang lemah, miskin, membantu mengatasi penderitaan, dan kesulitan yang dihadapi orang lain.
Orang-orang peduli adalah orang-orang yang tidak bisa tinggal diam menyaksikan penderitaan orang lain.
Sikap peduli adalah sikap untuk pro aktif dalam mengatasi masalah-masalah di masyarakat dengan menggunakan dan memanfaatkan sumber daya yang ada di masyarakat.
Sikap peduli adalah sikap kesediaan untuk memberi solusi terhadap persoalan masyarakat. Agar masyarakat dapat mau berdonasi, agar masyarakat mau menyumbang, agar masyarakat memilih kerelawanan sehingga mau membantu kesulitan saudara-saudara kita.
Peduli Adalah sikap untuk memperhatikan nilai-nilai kemanusiaan, selalu tergerak membantu kesulitan manusia lainnya. Sikap peduli adalah sikap untuk berusaha membangkitkan kemandirian yang ada di masyarakat.
Orang-orang yang peduli adalah orang-orang yang tidak bisa tinggal diam, melihat kelemahan, sikap berpangku tangan dan membiarkan keadaan-keadaan yang buruk terus terjadi di masyarakat.
Sikap peduli adalah suatu sikap untuk senantiasa ikut merasakan penderitaan orang lain, ikut merasakan ketika penderitaan sebagian masyarakat lain sedang sakit, ikut merasa bersedih ketika sebagian saudara-saudara kita di timpa musibah bencana, kesulitan atau ditimpa keadaan-keadaan yang memberatkan dan membangkitkan rasa kasihan dan iba.
Sebagai organisasi yang dilahirkan dari rahim penderitaan masyarakat, terutama masyarakat yang hidup dalam kondisi kekurangan dan selalu menderita, maka kewajiban organisasi yang paling utama adalah senantiasa menempatkan diri dalam posisi membela kepentingan mereka, memperjuangkan hak-hak mereka, menjadi pendamping dan teman bagi kehidupannya serta mengadvokasi dan menolong masyarakat kecil dan tertindas (mustad'afin) itu.
Karena kondisi seperti itulah, maka organisasi akan terdorong untuk mengemas berbagai program sebagai bagian dari pertolongan dan pembelaan terhadap nasib orang-orang yang tertindas. Upaya lain yang dilakukan adalah dengan senantiasa menyuarakan dan mengadvokasi kesulitan dan ketertindasan masyarakat yang hidup kekurangan itu.
Sebagai organisasi yang berperan membantu masyarakat yang tidak mampu, maka menolong masyarakat yang paling membutuhkan adalah hal yang menjadi prioritas. Manakala terdapat sejumlah orang yang memerlukan bantuan, akan tetapi ketersediaan sumber daya terbatas sehingga tidak mungkin membantu keseluruhan orang yang memerlukan bantuan, maka organisasi akan memprioritaskan yang paling membutuhkan.
Terlebih pada saat terjadi bencana, maka mengutamakan yang paling menderita adalah menjadi prioritas utama. Dalam konteks tingkat kualitas yang sama di antara sejumlah orang yang memerlukan bantuan, tetap saja terdapat perbedaan kesulitan kehidupan, kemiskinan atau tingkat penderitaan, maka organisasi akan mengutamakan yang paling membutuhkan (yang paling menderita).
Orang-orang sudah mulai untuk TIDAK! memperhatikan sekitarnya. 
Apakah kita sekarang sudah sangat-sangat INDIVIDUALISTIS ? 

Apa yang terjadi?
Aku ini seorang yang awam, tapi aku masih peduli……..
Aku peduli karena aku hidup ditengah masyarakatku yang juga peduli pada sekitarnya. Jadi kami adalah sekelompok MASYARAKAT KECIL yang masih peduli di tengah-tengah MASYARAKAT BESAR yang jumlahnya lebih sedikit tapi mulai melupakan darimana mereka berangkat, siapa yang mengantar mereka, dan apa yang mereka HUTANGKAN kepada kami.
Entah jadi apa kami ini nanti, jumlah kami banyak. Sangat banyak, tapi lebih sering kami tidak didengar, apalagi diperhatikan. Mungkin salah kalau saya bilang kami sering TIDAK diperhatikan, yang pastinya ada yang memperhatikan kami. Tapi ya begitu…diperhatikan dari jauh, tapi tidak ada tindakan nyata yang menyeluruh. mungkin istilahnya lebih tepat kami ini DIAMATI daripada diperhatikan.
Pikir MEREKA ” Maunya apa mereka yang lebih banyak dari KITA itu? Jangan lengah, AMATI terus!!! kalo dirasa ada sinyal yan kurang bagus buat kita, kasih aja yang mereka mau asal jangan kita kasih semua….perwakilan aja yang paling VOKAL. Nti juga DIAM”.
Apakah benar pikiran mereka begitu? Tidak akan ada yang tahu. Yang tahu cuma TUHAN dan Kepada Nya  lah kita berserah juga berdoa semoga pikiran MEREKA tidak begitu.
Semoga saja MEREKA benar-benar memperhatikan kita, hanya saja sebagian kita belum terjangkau oleh perhatian MEREKA karena kendala jarak dan waktu. Dan bila saatnya nanti, kita juga dapat giliran untuk mendapatkan perhatian yang TULUS dari MEREKA.
SALUT bagi MEREKA!  yang Benar-benar Perhatian pada kami, yang TIDAK maka terserah mereka yang pada akhirnya ada PENGADILAN yang benar-benar ADIL dan tidak terbantahkan dengan Saksi yang melekat pada tubuh KITA. 

Sudah berulangkali peringatan bahaya pemikiran liberal gaya Nasr Hamid Abu Zaid disampaikan, tetap saja paham seperti itu disebarkan. Catatan Akhir Pekan [CAP] Adian Husaini ke-240
Dalam bukunya yang terkenal, Islam at the Crossroads, Muhammad Asad/Leopold Weiss mengingatkan umat Islam, bahwa: ”The Imitation – individually and socially – of the Western mode of life by Muslims is undoubtedly the greatest danger for the existence – or rather , the revival – of Islamic civilization.”
Jadi, kata Asad, penjiplakan kaum Muslim – baik secara individual maupun sosial – terhadap gaya hidup Barat tanpa diragukan lagi adalah bahaya terbesar dari eksistensi dan kebangkitan kembali peradaban Islam. Buku Asad ini terbit pertama tahun 1934 dan telah ditejemahkan ke dalam berbagai bahasa. Buku kecil ini memberikan gambaran yang tajam tentang hakekat peradaban Barat yang disebut oleh Asad, sebagai peradaban yang memuja materi dan anti-agama (irrelegious in its very essence).
Lihatlah nilai-nilai peradaban Barat yang kini menyerbu rumah-rumah kita melalui media hiburan. Film-film, lagu, sinetron yang dijejalkan kepada generasi muda kita dipenuhi dengan urusan seputar syahwat jasadiah, baik menyangkut makanan maupun urusan seksual. Peradaban ini sangat mengagungkan unsur-unsur fisik. Jangan heran, jika dalam peradaban ini, wanita lebih dihargai karena unsur-unsur fisiknya. Kontes nyanyi dan loma kecantikan menjadi upacara yang sangat diagungkan, disiarkan ke seluruh penjuru dunia, tanpa peduli urusan moral.
Dalam kontes-kontes kecantikan seperti itu, setiap jengkal tubuh wanita diukur, ditelaah, dan dinilai untuk selanjutnya dipaparkan kepada publik. Bahwa si A memiliki tubuh terseksi di dunia. Media-media hiburan sibuk membuat ranking tentang wanita yang memiliki tubuh terindah. Bahkan, konon di suatu negara, ada majalah yang khusus menyajikan berita seputar alat kelamin wanita. Kata mereka, semua itu adalah ekspresi keindahan. Semua itu tidak ada hubungannya dengan pornografi, tetapi ekspresi seni. 

Salah satu buah dari reformasi di Indonesia adalah kebebasan dalam kontes-kontes kecantikan. Sudah beberapa tahun, Putri Indonesia senantisa tampil dalam acara pemilihan Miss Universe. Meskipun harus tampil secara vulgar dalam pakaian bikini, kontes seperti itu tetap dilakukan, dan televisi di Indonesia pun berlomba menyiarkan acara tersebut. Tidak ada rasa malu lagi untuk tampil dengan membuka aurat. Tujuan utamanya tentu saja adalah untuk mendapatkan penghargaan sebagai ”Ratu Kecantikan”.
Dengan cara itu, mungkin mereka ingin membuktikan, bahwa ternyata wanita Indonesia tidak kalah cantiknya dengan wanita negara lain? Lalu untuk apa? Katanya, untuk pariwisata. Biar turis mau datang. Biar diakui, bahwa negara Indonesia banyak wanita cantik. Setelah itu? 

Aneh! Inikah negara yang mayoritas penduduknya Muslim? Inikah negara yang menginginkan mendapat berkah dari Allah? Beginikah cara memajukan bangsa yang sedang terpuruk? Naif! Naif sekali! Akal yang sederhana pun tahu, bahwa bangsa ini akan bangkit jika rakyatnya mau belajar dan bekerja keras. Bangsa ini memerlukan pemimpin yang berani berpikir besar dan berani melakukan tindakan besar, bukan dengan mengirimkan wanita untuk mengumbar aurat di kontes ratu kecantikan. Para ulama sudah berteriak-teriak minta agar acara semacam itu dihentikan. Tetapi, pemerintah diam saja. DPR diam saja. Barangkali takut dikecam media. Takut dibilang kolot. Takut dibilang sok-moralis. Takut dibilang melanggar HAM. Memang, di alam reformasi dan kebebasan seperti ini, protes tidak dilarang, tetapi tidak perlu didengarkan.
Tokoh agama sudah teriak-teriak agar acara-acara yang menonjolkan unsur-unsur homoseksual dan lesbian dihentikan. Tetaoi, protes itu pun dianggap angin lalu. Televisi tetap saja menayangkan tontonan seperti itu. Ulama sudah berteriak, hentikan tayangan judi via SMS. Tapi, TV pun tidak peduli. Jalan terus! Yang penting dapat untung! Para ulama juga tidak menyerah untuk mengimbau agar tayangan-tayangan klenik dihentikan. Tapi, seruan itu juga diangap sebagai angin lalu. Yang penting untung, yang penting dapat duit banyak. Yang penting, acaranya laku, iklan banyak. Tidak peduli, apakah tayangan itu merusak moral atau tidak; tayangan itu meruntuhkan sendi-sendi kekuatan bangsa atau tidak. Tidak peduli! 

Sikap tidak peduli itu pula yang kini banyak menjangkiti banyak kalangan akademisi yang sudah tergila-gila untuk mem-Barat-kan Islam. Mereka tidak mau peduli dengan segala macam kritik. Banyak yang menganggap ini masalah remeh. Tidak peduli! Buku-buku yang merusak pemikiran Islam terus diterbitkan. Meskipun sudah diketahui sebagai buku yang salah. Tidak peduli!
Meskipun sudah berulangkali kita paparkan bahaya pemikiran liberal gaya Nasr Hamid Abu Zaid, tetap saja mereka menganggap kritikan itu sebagai angin lalu. Tidak peduli! Meskipun paham multikulturalisme sudah kita kritik, tetap saja paham itu disebarkan ke tengah masyarakat. Tidak peduli! Meskipun sudah kita tunjukkan kekeliruan dalam penafsiran Al-Quran atau pun kita tunjukkan kekeliruan dalam mengungkap data-datanya, tetap saja tidak peduli. Berulangkali kita tunjukkan bahwa ada guru besar yang kerjaannya sebagai penghulu swasta dan mengawinkan pasangan beda agama, tetap saja para petinggi kampusnya tidak peduli. Meskipun tahu ada dosen yang kerjaannya mengkampanyekan kehalalan perkawinan sesama jenis, tetap saja hal itu dianggap sebagai ”wacana”. Tidak peduli! 

Jika sikap tidak peduli semacam itu sudah mejangkiti para elite negeri ini, baik kalangan pemerintah maupun akademisi, apalagi yang bisa kita harapkan? Jika suami tidak peduli lagi apa yang dilakukan istrinya, apakah pantas dia disebut suami? Jika pemimpin negara tidak peduli dengan perilaku rakyatnya, apakah pantas dia disebut pemimpin negara? Jika guru tidak peduli dengan perilaku siswanya, apakah pantas dia disebut sebagai guru? Jika cendekiawan dan ulama sudah tidak peduli dengan perilaku umatnya, apakah pantas dia disebut cendekiawan atau ulama? 

Dalam tradisi peradaban Barat, seseorang dibiasakan untuk tidak peduli dengan kemunkaran dalam soal aqidah dan pemikiran. Mereka hanya peduli dalam soal-soal yang fisik, karena Barat memang peradaban yang sangat memuja materi. Mereka tidak peduli dengan urusan agama. Mereka sangat peduli dengan urusan korupsi dan kerusakan lingkungan, tetapi tidak peduli apakah seseorang beriman atau kufur, apakah seorang berdosa atau tidak. Mereka tidak peduli dengan semua itu! Yang penting masyarakat menjalankan ketertiban atau tidak. Itu yang mereka peduli.
Karakter masyarakat seperti itu tentu berbeda dengan masyarakat Islam. Sebab, dalam pandangan Islam, urusan terpenting dalam kehidupan adalah masalah keimanan. Maka, tugas pemimpin negara – disamping menyejahterakan kehidupan rakyatnya – juga melindungi aqidah masyarakat. Karena itu, dalam pandangan Islam, tugas utama seorang pemimpin Islam justru melindungi dan menegakkan Tauhid. Sebab, inilah tugas utama para nabi. Kita sudah sering membahas, bagaimana azab Allah akan turun ketika umat Islam melalaikan kewajiban amar ma’ruf nahi munkar

Dalam kaitan soal kepedulian inilah, maka Allah pun sudah mengingatkan agar kita senantiasa menegakkan iman dan mengembangkan sikap kritis terhadap kaum Muslim dan terutama kepada para pemimpinnya. Kita sangat prihatin dengan masih adanya gejala kultus di antara sebagian kalangan Muslim terhadap tokoh dan pemimpinnya. Mereka tidak peduli, apakah pemimpinnya itu keliru atau tidak. Bahkan, mereka sudah meletakkan nasibnya di dunia dan akhirat kepada sang pemimpin. Padahal, pemimpin itu bukan nabi, dan mungkin saja keliru dalam pemikiran dan kebijakan yang diambilnya. 

Karena sikap kultus itu sudah begitu membudaya, sampai-sampai ada yang marah-marah jika pemimpinnya dikritik. Ada yang marah karena Amin Rais dikritik; ada pula yang tidak terima ketika Nurcholish Madjid dikritisi pemikirannya; dan ada yang tidak terima jika Abdurrahman Wahid dikritik. Tidak sedikit yang menjadi fanatik kepada seorang tokoh atau kelompoknya melebihi fanatiknya kepada Islam itu sendiri, sehingga dia sangat marah ketika kelompok atau pemimpinnya dikritik. Meskipun sang pemimpin jelas-jelas salah, dia tidak mau mengritiknya dan berusaha keras menutupinya, supaya pemimpin dan kelompoknya tidak jatuh martabat.
Sikap kultus seperti ini tidak mendidik masyarakat. Rasulullah saw sama sekali tidak mencontohkan sikap semacam itu. Berkembangnya tradisi ilmu senantiasa diikuti dengan budaya kritis di tengah masyarakat, meskipun sikap kritis itu tetap berpijak kepada adab. Budaya kultus dan taqlid yang membabi buta justru bukan hanya merugikan masyarakat, tetapi juga akan merugikan sang pemimpin sendiri.
Pada tahun 2008 ini, misalnya, terbit sebuah buku berjudul ”99 Keistimewaan Gus Dur.” Dalam kata pengantarnya untuk buku ini, Muhaimin Iskandar menulis, bahwa ”Sebagai pemimpin, Gus Dur mampu mengawal, mendampingi dan mengayomi masyarakatnya menuju proses pembentukan kemandirian dan kehidupan yang demokratis.” Masih menurut Muhaimin, ”Gus Dur merupakan bagian dari kekayaan yang dimiliki bangsa ini yang patut diteladani oleh siapa pun yang memiliki perhatian dan kepedulian terhadap persoalan-persoalan umat.” 

Tentu saja, kata pengantar Muhaimin itu dibuat sebelum dia dipecat oleh Abdurrahman Wahid sebagai ketua umum PKB. Pujian setinggi langit juga diberikan oleh Prof. Dr. KH Said Aqiel Siradj, M.A, dalam pengantarnya untuk buku ini. Aqiel mengisahkan, bahwa Gus Dur mampu mengenali seorang waliyullah. Suatu ketika, Gus Dur menemui seorang yang penampilannya sangat sederhana layaknya seorang ”gembel”. Ternyata, menurut Aqiel Siraj, yang ditemui Gus Dur itu adalah seorang wali yang sedang menyamar. Begitu ketemu, Gus Dur minta didoakan oleh orang tersebut. Aqiel menulis: ”Rupanya, Gus Durlah yang berhasil menyingkap sosok waliyullah tersebut. Sementara kewalian itu hanya diketahui oleh diri sendiri dan Allah.”
Jadi, dengan cerita itu, apakah berarti Abdurrahman Wahid adalah seorang waliyullah? Wallahu a’lam. Hanya Allah yang tahu. 

Salah satu dari 99 keistimewaan Abdurrahman Wahid yang disebutkan dalam buku ini adalah kegigihannya dalam membela kaum tertindas. Contoh kaum tertindas yang dibela Abdurrahman Wahid adalah Ahmad Dani, Inul Daratista, kelompok Ahmadiyah, Tabloid Monitor, dan sejenisnya.
Kita bisa bersikap kritis terhadap posisi Abdurrahman Wahid dalam soal-soal tersebut. Benarkah Inul merupakan seorang wanita yang tertindas? Benarkah Ahmad Dhani termasuk kaum yang tertindas? Dan sebagainya. Jika Inul dikatakan sebagai makhluk tertindas, bagaimana dengan ribuan ibu-ibu dan anak-anak yang ditindas oleh berbagai tayangan TV yang merusak moral? Mereka tertidas, dan mereka tidak berdaya. Inul justru bergelimang harta dan dibela habis-habisan oleh kekuatan industri hiburan yang sangat fasis. Kita pun bisa bertanya, dimana posisi Abdurrahman Wahid dalam kasus penindasan rakyat Palestina, di posisi Israel atau rakyat Palestina? Mengapa dia lebih memilih bersahabat dengan Shimon Peres?
Kita maklum, bahwa para pendukung seorang tokoh kadangkala membuat pemaparan yang mengagungkan sang tokoh. Ketokohan Abdurrahman Wahid tidaklah diragukan. Banyak keistimewaan dimilikinya. Karena itulah, ketika akan mendeklarasikan Partai Kebangkitan Nasional Ulama (PKNU), para kyai senior di NU pun seperti merasa perlu menerbitkan sebuah buku kecil berjudul 

Kita tunggu saja akhir dari semua ”permainan” semacam ini. Kita yakin, Allah Maha Tahu apa yang sebenarnya terjadi. Allah tahu siapa yang benar dan siapa yang dusta. Pasti akan ada balasan untuk masing-masing. Para tokoh itu akan mempartanggungjawabkan perbuatannya sendiri kepada Allah SWT. Kita pun demikian. Di akhirat nanti, mereka akan berlepas tangan, dan tidak mau menanggung dosa-dosa kita.
Yang penting, kita tetap diwajibkan berdakwah dan melaksanakan amar ma’ruf nahi munkar. Mudah-mudahan, kita tidak termasuk golongan orang-orang yang tidak tahu dan tidak peduli dengan berbagai persoalan umat. Sebab, kata Rasulullah saw, barangsiapa yang bangun pagi dan tidak peduli dengan urusan umat, maka dia bukan bagian dari umat Islam.

Selain dari sikap – sikap diatas ada hal yang lain yan gdapat saya jelaskan tentang bagaimana sesorang itu tidak peduli dengan keadaan disekitarnya. Hal ini terkadnag tergantung dengan manusia itu sendiri. Bagaimana cara didikannya didalam keluarganya atauapun faktor dari orang lain. 

Kita dapat mabil contoh yang pertama adalah kemiskinan yang ada diindonesia :
Dalam tahun ke tahun masyarakat miskin diindinesia sangat banyak enatah apa yang terjadi apabila masih akan bertambah masyarakt miskinnya. Kita lihat saja di Jakarta ini, sangat banyak masnyarakat miskin. Mungkin penyebabnya adalah mereka kekurangan lapangan pekerjaan didaerahnya masing – masing. Apabila dilihat didaerah kebanyakan amsyarakat hanya menjadi buruh entah itu buruh tani atau buruh yang lain. Semakin lama penduduk desa semakin banyak, orang yang ingin bekerja pun semakin banyak, semakin sedikit lapangan pekerjaan yang ada. Sikap yang terjadi saat ini adalah pemerintah Indonesia mengabaikan keadaan masyarak miskin itu. Sampai akhirnya mereka berfikir ingin berpindah dari desa ke kota agar nasib mereka lebih baik di kota. Tapi hal itu masih tergantung pada seleksi alam di kota. Apabila orang yang berpindah malas maka ia akan terbuang atau menjadi tidak mempunyai pekerjaan namun apabila ia kreatif dan bersemangat maka ia akan mendapatkan pekerjaan bahkan dapat menciptakan lapangan pkerjaan sendiri. Semua yang dilakukan pasti ada seleksi alam siapa yang kreatif itu yang berhasil. Orang – orang yang tidak berhasil dia akan menjadi orang pemalas tidak bersemangat bekerja atau menjadi masyarakat miskin yang pekerjaannya tidak jelas. Kita dapat melihatnya di jalan –jalan di ibu kota ini banyak para pengemis, gembel, anak jalanan dan lainnya. Mereka itulah yang terkena seleksi alam. Mungkin ada beberapa orang yang merasa kasihan tapi ada beberapa orang yang menghiraukan mereka. Yang mernghiraukan ini lah mungkin berfikiran “siapa suruh pindah ke kota hanya memenuhi kesibukan dikota saja” mungkin bagi orang yan gseperti mereka sangat terganggu dengan keadaan para pengemis atau masyarakat miskin itu. Ada juga cara dari orang yang peduli dengan memberikan uang atau barng lainnya. Mengapa seperti itu? Mereka merasa iba dengan keadaan mungkin mereka berfikir apabila mereka berada diposisi seerti itu. Kebijakan dari pemerintah seperti mangadakan razia juga tidak efektif mereka dibawa ke panti sosial uttuk dibina dan diajarka seni seperti menjahit dan seni tnagan lainnya. Namun dari ada juga yang melarikan diri menjadi pengemis atau pengamen. Mengapa mereka tidak ingin dibina dan lebih memilih dijalanna? Hal seperti itu disebabkan mereka tidah betah dengan keadaannya. Mereka tidak mendapat uang dengan cepat. Peduli atau tidak peduli pemerintah dengan keadaan mereka yang seperti itu. 

Saran saya adalah bagaimana bila pemerintah membuka lapangan pekerjaan agar masyarakat yang kekurangan dapat bekerja dan masyarak yang kekurangan tidak boleh bermalas – malasan dan hanya menunggu lapangan pekerjaan. Harus memiliki inisiatif, pantang menyerah, dan kreatif agar mereka tidak menjadi masyarakat yang kekurangan. Sangat miris sekali apabila Indonesia di cap sebagai pemerintah yang tidak peduli dengan masyarakatnya. Semua masyarakat seharusnya ambil andil dalam hal ini. Mengapa? Karena kita berada di negara demokrasi negara yang dianggap negara lain kaya akan hasil alamnya yang seharusnya bisa memanfaatkannya dengan baik dan tidak dimanfaatkan oleh negara lain. 

Ketidak pedulian dari masyarakat akan membawa bencana bagi dirinya sendiri dan juga orang lain. Apa sebabnya? Mungkin mereka akan terus terganggu dengan masyarakat yang kekurangan yang belum bisa memnuhi kebutuhan hidupnya dan sangat prihatin untuk masyarakat yang kurang mampu tesebut. Yang dapat saya amati bahkan orang yang kekurangan tersebut juga tidak peduli dengan keadaannya. Mereka tetap malas dan tidak ingin berusahan yang lebih. Bgaimana pemerintah ingin mensejahterakan mereka? Sikap pemerintah dan siksap dari masyarakat itu sendiri harus balance (seimbang) apabila tidak begitu tidak akan ada masyarakat yang sejahtera dan akan terus kekurangan walaupun salah satunya sudah diperbaiki sikapnya.
Itulah yang dapat saya amati dan saya tulis disini. Sebaiknya kita semua peduli dengan keadaan disekitar kita. Dimanapun kita berada, seberapa tinggi jabatan kita. Kita tetap harus peduli agar semua menjadi sejahtera. 




NAMA             : FITRIA PRATIWI
NPM                : 12110849
KELAS                        : 1 KA 21
ANGKATAN   : 2010

1 komentar:

Fafi lindhen jayadiningrat mengatakan...

keren juga nih yang dibahas,saya suka....
semangat...!

Poskan Komentar